jom zikir...

Powered By Blogger
Showing posts with label kehidupan. Show all posts
Showing posts with label kehidupan. Show all posts

Wednesday, February 15, 2012

Kisah Tentang Taubat

Taubat Nabi Adam a.s.
Diriwayatkan dari Hasan, ia berkata bahawa ketika Allah menerima taubat Nabi Adam a.s., para malaikat mengucapkan selamat kepadanya dan Jibril serta Mikail a.s. turun kepadanya seraya berkata, "Wahai Adam, tenanglah hatimu sebab Allah Taala telah menerima taubatmu."

Jawab Nabi Adam a.s., "Hai Jibril, jika sesudah taubat ini ada pertanyaan, maka di mana sebenarnya maqam (kedudukan) aku?"

Allah pun menurunkan wahyu kepada Nabi Adam a.s., "Hai Adam, Kuwariskan kepada keturunanmu jerih-payah dan upah, dan Kuwariskan taubat kepada mereka. Barangsiapa di antara mereka berdoa kepada-Ku, pasti Kukabulkan sebagaimana Aku mengkabulkan engkau, dan barangsiapa memohon ampunan-Ku, Aku tidak berlaku kikir ke atasnya. Sebab Aku dekat, dan pengampun dosa. Hai Adam, orang-orang yang bertaubat akan dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan suka ria dan tersenyum simpul di mana doa permohonan mereka dikabulkan."



Tuhan Maha Penerima Taubat
Diriwayatkan bahawa di kalangan Bani Israil ada seorang pemuda yang beribadat kepada Allah selama 20 tahun dan membuat maksiat kepada-Nya selama 20 tahun pula. Suatu hari dia melihat wajahnya di cermin, dan nampaklah janggutnya yang beruban. Dia merasakan dirinya telah tua dan sudah tentu telah dekat dengan kematian.
Keadaan itu menyebabkan hatinya merana, lalu mengeluh, "Hai Tuhanku, aku telah taat kepada-Mu selama 20 tahun, kemudian maksiat kepada-Mu selama 20 tahun pula. Andaikata aku kembali kepada-Mu, sudikah Engkau menerima-Ku?"

Kemudian dia mendengar suatu suara berkata, "Engkau telah mencintai-Ku, maka Aku pun mencintaimu. Engkau telah meninggalkan-Ku, maka Aku pun meninggalkanmu. Dan engkau telah maksiat kepada-Ku, maka engkau Kuberi waktu. Jikalau engkau kembali kepada-Ku, Aku terimalah engkau."



Pintu Taubat Sentiasa Terbuka
Seorang lelaki telah bertanya kepada Ibnu Mas`ud tentang seorang yang berdosa tapi menyesalinya, apakah bagi orang itu ada hak taubat. Ibnu Mas`ud berpaling daripadanya, kemudian menghadapnya semula dengan kedua matanya bercucuran air mata, lalu menjawab, "Sesungguhnya Syurga itu mempunyai delapan pintu yang seluruhnya kadang kala terbuka dan kadang kala terkunci, kecuali pintu taubat. Pada pintu ini ada malaikat yang diserahi tugas agar jangan menguncinya. Bertaubatlah, jangan berputus asa!"

Taubat Dengan Menebus Dosa
Pada umat sebelum Rasulullah SAW, ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Suatu hari dia menanyakan tentang orang yang paling alim di dunia ini, lalu ditunjukkan kepadanya seorang rahib. Lelaki itu pergi berjumpa sang rahib dan mengatakan bahawa dirinya telah membunuh 99 orang, apakah masih berhak untuk taubat. Rahib itu mengatakan tidak. Lalu dibunuhnya sekali rahib tersebut dan dengan itu cukuplah seratus orang. Kemudian ia bertanya lagi siapa yang paling alim di dunia ini. Ditunjukkanlah kepadanya salah seorang alim, lalu ia pun mengaku kepada orang alim itu yang ia telah membunuh seratus orang, apakah ia boleh bertaubat.
Jawab orang alim itu, "Ya. Siapa yang dapat menghalang kamu daripada bertaubat? Pergilah ke kampung sekian, sekian. Di sana, orang-orangnya memuja Allah Taala. Menujulah kepada Allah bersama-sama mereka dan jangan kembali ke kampungmu. Sebab kampungmu adalah tanah jahat."
Di pertengahan jalan, lelaki itu telah meninggal dunia. Maka berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab tentang siapa yang berhak menguruskannya.

Malaikat rahmat berkata, " Di hatinya telah ada taubat kepada Allah."

Malaikat azab pula berkata, "Dia belum berbuat kebaikan sama sekali."

Kemudian, Allah mendatangkan malaikat lain dalam rupa manusia biasa untuk memutuskan perkara itu. Jarak di antara lelaki itu dengan kedua buah kampung pun diukur. Ternyata ia lebih dekat dengan kampung yang sedang ditujuinya dengan kadar satu jengkal. Akhirnya ia pun diuruskan oleh malaikat rahmat. Oleh itu, jelaslah bahawa tidak ada keselamatan kecuali dengan lebih beratnya timbangan kebaikan walaupun hanya seberat satu atom. Kerana itu wajib bagi orang yang bertaubat untuk memperbanyakkan kebaikan bagi menebus dosa-dosanya
.

~hati perlu sentiasa ditarbiah...~ (6_6)

Friday, May 21, 2010

kisah Ahmad Izzah

Suatu petang, di Tahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jeneral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.
Setiap banduan penjara membongkokkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo penjara' itu melintasi di hadapan mereka. Kerana kalau tidak, sepatu 'boot keras' milik tuan Roberto yang fanatik Kristian itu akan mendarat di wajah mereka. Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. "Hai... hentikan suara jelekmu! Hentikan... !" Teriak Roberto sekeras-kerasnya sambil membelalakkan mata. Namun apa yang terjadi? Laki-laki di
kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu'nya.
Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar
tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang.


Dengan marah ia menyemburkan ludahnya ke wajah tua sang tahanan
yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia
lalu menyucuh wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan
rokoknya yang menyala. Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun
keluh kesakitan. Bibir yang pucat
kering milik sang tahanan amat galak untuk meneriakkan kata
Rabbi, wa ana 'abduka... Tahanan lain yang menyaksikan
kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah
wahai ustaz... InsyaALlah tempatmu di Syurga."


Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustaz oleh sesama
tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak marahnya. Ia
memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya
tubuh orang tua itu keras-kerasnya sehingga terjerembab di
lantai.


"Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka
bahasa hinamu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan
agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Sepanyol ini kini
telah berada dalam kekuasaan bapa kami, Tuhan Jesus. Anda telah
membuat aku benci dan geram dengan 'suara-suara' yang seharusnya
tidak didengari lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mahu minta maaf dan masuk agama kami."


Mendengar "khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala,
menatap Roberto dengan tatapan yang tajam dan dingin. Ia lalu
berucap,


"Sungguh... aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat
menjumpai kekasihku yang amat kucintai, ALlah. Bila kini aku
berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya,
patutkah aku berlutut
kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemahuanmu, tentu
aku termasuk manusia yang amat bodoh."


Sejurus sahaja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah
mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh
terkapar di lantai penjara dengan wajah berlumuran darah. Ketika
itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur
sebuah 'buku kecil'. Adolf Roberto berusaha
memungutnya. Namun tangan sang Ustaz telah terlebih dahulu
mengambil dan menggenggamnya erat-erat. "Berikan buku itu, hai
laki-laki dungu!" bentak Roberto.


"Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk
menyentuh barang suci ini!"ucap sang ustaz dengan tatapan
menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto
mengambil jalan paksa untuk mendapatkan
buku itu. Sepatu lars seberat dua kilogram itu ia gunakan untuk
menginjak jari-jari tangan sang ustaz yang telah lemah.


Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati.


Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah
merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan
'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika melihat
tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah
hancur.


Setelah tangan tua itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil
yang membuatnya baran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang
telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.


"Ah... seperti aku pernah mengenal buku ini. Tetapi bila? Ya, aku
pernah mengenal buku ini."


Suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka
lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut
tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. Rasanya
ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang
tak pernah dilihatnya di bumi Sepanyol.


Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustaz yang sedang
melepaskan nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo
kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat
terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya
sewaktu masih kanak-kanak.


Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan
Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu petang di masa
kanak-kanaknya terjadi kekecohan besar di negeri tempat
kelahirannya ini. Petang itu ia melihat peristiwa yang
mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian
kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung
pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa gugur di
bumi Andalusia.


Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab)
digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh
mereka bergelantungan tertiup angin petang yang kencang, membuat
pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.


Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar
hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mahu
memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.


Seorang kanak- kanak laki-laki comel dan tampan, berumur sekitar
tujuh tahun, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi
yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid
semua. Kanak kanak comel itu melimpahkan airmatanya menatap sang
ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan kanak-kanak itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah bernyawa,
sambil menggayuti abinya. Sang anak itu berkata dengan suara
parau, "Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah
ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang
alif, ba, ta, tsa... .? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi... "


Budak kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak
jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu
apa yang harus dibuat . Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu
arah. Akhirnya budak itu berteriak memanggil bapaknya,


"Abi... Abi... Abi... " Namun ia segera terhenti berteriak
memanggil sang bapa ketika teringat petang kelmarin bapanya
diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.


"Hai... siapa kamu?!" jerit segerombolan orang yang tiba-tiba
mendekati budak tersebut. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu
Ummi... " jawabnya memohon belas kasih. "Hah... siapa namamu
budak, cuba ulangi!" bentak salah seorang dari mereka.

"Saya Ahmad Izzah... " dia kembali menjawab dengan agak kasar.


Tiba-tiba "Plak! sebuah tamparan mendarat di pipi si kecil. "Hai
budak... ! Wajahmu cantik tapi namamu hodoh. Aku benci namamu.
Sekarang kutukar namamu dengan nama yang lebih baik. Namamu
sekarang 'Adolf Roberto'... Awas! Jangan kau sebut lagi namamu
yang buruk itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan
kubunuh!" ancam laki-laki itu."


Budak itu mengigil ketakutan, sembari tetap menitiskan air mata.

Dia hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar
lapangan Inkuisisi. Akhirnya budak tampan itu hidup bersama
mereka.

Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat
ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang
melekat pada tubuh sang ustaz. Ia mencari-cari sesuatu di pusat
laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia
berteriak histeria, "Abi... Abi... Abi... " Ia pun menangis keras,
tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus bergelut
dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang
ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang
dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak
menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda
hitam' pada bahagian pusat.


Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk erat tubuh tua nan
lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas
tingkah-lakunya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh
tahun lupa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, "Abi...
aku masih ingat alif, ba, ta, tha... " Hanya sebatas kata itu
yang masih terakam dalam benaknya.


Sang ustaz segera membuka mata ketika merasakan ada titisan
hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih
dapat melihat seseorang yang tadi menyeksanya habis-habisan kini
sedang memeluknya.

"Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau
tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu... "
Terdengar suara Roberto meminta belas.


Sang ustaz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, lalu
memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa
tidak, jika setelah puluhan tahun, ternyata ia masih sempat
berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk
akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.


Sang Abi dengan susah payah masih boleh berucap. "Anakku,
pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja
bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail
Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,"

Setelah selesai berpesan sang ustaz menghembuskan nafas terakhir
dengan berbekal kalimah indah
"Asyahadu anla IllaahailALlah, wa asyahadu anna
Muhammad Rasullullah... '. Beliau pergi dengan menemui Rabbnya
dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.


Kini Ahmah Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh
hidupnya dibaktikan untuk agamanya, 'Islam, sebagai ganti
kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda
Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya... "


Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

3 soalan...

Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanya an saya?

Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.

Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.

Kiyai :Saya akan mencuba sejauh kemampuan saya.

Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:-

1.Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan wujud tuhan
kepada saya
2.Apakah yang dinamakan takdir
3.Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan
ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan.
Sebab merekamemiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah
berfikir sejauhitu?

Tiba-tiba Kiyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

Pemuda (sambil menahan sakit) : Kenapa anda marah kepada saya?

Kiyai : Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.

Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.

Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.

Kiyai : Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?

Pemuda : Ya!

Kiyai :Tunjukan pada saya wujud sakit itu!

Pemuda :Saya tidak boleh.

Kiyai :Itulah jawaban pertanyaan pertama...kita
semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

Kiyai :Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?

Pemuda : Tidak.

Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan
menerima tamparan dari saya hari ini?

Pemuda : Tidak.

Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.

Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan
untuk menampar anda?

Pemuda : Kulit.

Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?

Pemuda : Kulit.

Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : Sakit.

Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan
neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka
neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.

...renung2kn lah...

cincin untuk aku

Waktu kecil-kecil dulu, aku sering cemburu pada ibu.
Bukan cemburu kerana ibu lebih cantik atau menawan
dariku. Tapi aku cemburu bila melihat ibu selalu
membeli barang-barang keperluan dirinya yang pelbagai.
Ibu selalu membeli baju-baju baru, yang kebanyakannya
disimpan di dalam almari usangnya. Boleh dikatakan
setiap bulan, ibu akan membeli kain ela baru untuk
dibuat baju. Kadang-kadang ibu beli tanpa
memberitahuku. Tahu-tahu, sudah tergantung di dalam
almari. Pakaian ibu cantik-cantik dan sebagai anak
yang sudah meningkat remaja (14 tahun) aku akui rasa
cemburu setiap kali ibu menunjukkan pakaian barunya
sedangkan aku waktu itu, jarang dibelikan persalinan
yang baru.

Satu lagi yang membuat aku sebal dengan sikap ibu
ialah, ibu selalu membazir duit dengan membeli
barang-barang kemas yang pelbagai bentuk. Cincinnya
hampir semua jari ada tersisip. Rantai leher ada lima
utas. Yang satu bergulung-gulung hingga ke dada. Yang
satu lagi bulat-bulat bagai kepingan syiling lima
puluh sen. Ibu sanggup berhutang hanya untuk
mendapatkan rantai baru. Aku tidak tahu apa keperluan
semua itu. Aku lihat jiran-jiran ibu juga begitu.
Kerlipan emas sarat di leher, tangan dan jemari. Aku
tidak tahu apakah itu satu pemandangan biasa atau
keperluan bagi orang-orang yang seusia dengan ibu.

Yang sebetulnya, aku kecil hati kerana ibu tidak
pernah membelikan barang kemas walau sepasang
anting-anting pun untuk aku. Aku jadi sakit hati juga
kerana kakak-kakakku masih lagi mendapat
sekurang-kurangnya sebentuk cincin dari ibu. Biasanya
cincin yang ibu rasakan sudah lama dipakai, ibu akan
berikan kepada kakak-kakakku, tetapi tidak aku. Ini
membuatkan aku betul-betul sakit hati.

"Mak ni, asyik beli rantai...jee...kan mak dah banyak
rantai.."Aku membebel satu hari bila mak menunjukkan
seutas rantai yang baru dibeli. Juga secara hutang.
"Tak apalah Nana, mak saja simpan banyak-banyak. Mana
tahu, mungkin berguna satu hari nanti. Lagipun rantai
ni ayah kamu dah janji lama nak belikan mak
dulu..."Aku muncung dengar mak jawab begitu.
"Asyik belikan mak....aje. Orang punya takde belikan
pun..."Aku mencebik. Seharusnya aku anak perempuan
yang bongsu patut dilebihkan dalam segala hal. Tapi
ibu tidak pernah bersikap begitu.
"Ibu belikan kak yah dan kak Ani cincin, tapi Nana ibu
tak belikan apa-apa pun..."
"Nana kan masih sekolah. Kalau Nana nak pakai barang
kemas, tunggu dah kerja esok."Begitu selalunya ibu
membahasakan aku. Sakit hati aku.
Tambah sakit hati, bila saja Ayah dapat hasil kebun
lebih, ibu menukar rantainya dengan yang lebih besar
lagi. Ayah tidak pula marah. Pelik aku dengan sikap
ayah.

Lama-lama aku jadi malas untuk melayan sakit hatiku
lagi. Bila aku terlihat cincin atau rantai baru
dileher ibu, aku hanya diam saja. Aku tidak mahu
bertanya apa-apa. Sehinggalah aku masuk ke asrama di
bandar dan mengambil SPM. Setiap kali aku pulang dari
asrama, aku lihat ibu masih dengan hobinya mengumpul
barang-barang kemas.

Bila aku mendapat tawaran belajar di universiti, aku
tidak tahu sama ada ibu gembira atau sebaliknya.
Kerana dalam keluarga belum pernah ada anak-anaknya
yang berjaya belajar di universiti. Aku tidak kisah
kalau ibu tidak berbangga dengan hasil usahaku kerana
sedari kecil memang cita-citaku untuk ke universiti
begitu kuat sekali. Kini hasratku itu telah tercapai
dan tiada apa lagi yang lebih menggembirakan selain
kejayaan ini.. Aku sudah boleh hindarkan perasaan
cemburu andai ibu lebih sayangkan kakak-kakakku atau
ibu lebih sering membelikan pakaian atau perhiasan untuk mereka berbanding aku. Memang aku bukanlah manja
sangat dengan ibu kerana 3 tahun aku di asrama.
Sepanjang tempoh itu aku tidak kisah lagi kalau ibu
tidak belikan langsung apa-apa untuk aku. Aku tidak
perlukan barang-barang kemas begitu dari ibu. Aku
boleh beli sendiri bila aku sudah bekerja nanti. Yang
penting aku sudah buktikan yang aku lebih bijak dari
kakak-kakakku yang lain.

Masuk tahun kedua pengajian, aku sering mengalami
lemah badan dan pening-pening yang keterlaluan.
Kadang-kadang aku terpaksa ponteng kelas dan ini
sedikit sebanyak memberi tekanan kepada pelajaranku.
Aku tidak pernah mengadu pada sesiapa walau dengan
ibu. Kerana aku tidak pernah merasakan ibu akan
memberi perhatian kepadaku. Sehinggalah aku pitam
sewaktu beratur mengambil makanan dan hanya tersedar
bila merasakan genggaman di jemariku. Wajah ibu yang
penuh garis-garis halus itu aku tatap pilu dan terasa
ada getaran dalam dadaku. Betapa aku tidak pernah
membelek wajah itu sungguh-sungguh sebelum ini. Dan
baru aku sedari betapa berbezanya wajah ibu kini.

Aku cuba bersikap seperti biasa bila doktor
memaklumkan akan keganjilan darahku yang menyebabkan
ia tidak dapat mengalir senormal mungkin. Penyakitku
belum diketahui, tetapi darahku harus dicuci. Aku juga
harus menjalani pembedahan dibahagian buah pinggang.
Sejak itu ibu mengunjungiku saban hari. Dia
membawakan apa-apa saja yang dirasakan menjadi
kegemaranku. Suatu hari, bila ibu bawakan aku lepat
pisang makanan kegemaranku aku jadi begitu terharu
lalu aku menangis teresak-esak. Tapi aku hanya
menangis dalam diam-diam. Aku terlalu menghargainya
tetapi aku tidak tahu bagaimana untuk meluahkan. Aku
tidak mahu dia melihat aku seperti terlalu berharap
akan kasih sayangnya.

Saban hari ibu menemani dan menyuapkanku makan, aku
mula sedar betapa ibu juga menyayangiku, cuma mungkin
dia tidak atau kurang menunjukkan perasaannya. Aku
jadi malu kerana sering beranggapan ibu menyisihkanku.
Beranggapan yang ibu tidak mengendahkanku semata-mata
kerana dia tidak pernah membelikan apa-apa untukku.
Setiap kali ibu ingin pulang, aku teringin sekali
memeluk dan mencium pipi ibu, tetapi aku rasa janggal
dan malu untuk melakukannya. Aku hanya mampu mencium
tangan ibu seperti selalu.
Aku tidak mengharapkan ibu menemaniku setiap hari.
Bukan kerana aku tidak suka, tetapi aku tidak mahu dia
menghabiskan wang semata-mata untuk berulang alik dari
rumah ke bandar. Pendapatan ayah bukanlah besar
sangat. Tambahan adik lelaki masih belajar di
menengah. Pembedahanku pula terpaksa ditangguhkan
kerana kekurangan wang. Aku terpaksa mendahulukan
wang biasiswaku tetapi ia masih tidak mencukupi.

Semalam, ibu tidak mengunjungiku. Hari ini juga
tidak. Hanya Ayah yang terpacul tengahari itu dengan
membawa khabar gembira. Wang yang dikumpul telah
mencukupi dah aku akan dibedah secepat mungkin. Bila
aku bertanyakan ibu, Ayah menyatakan ibu tidak berapa
sihat dan tidak dapat datang. Aku menunggu hari esok
dengan sabar.

Pagi itu aku disorong ke bilik pembedahan. Aku tidak
tahu berapa lama pembedahan tersebut. Bila tersedar
aku melihat wajah ayah dan kedua kakakku di sebelah.
Aku mencari wajah ibu tetapi tiada. Sedang wajah-wajah
didepanku terlihat mendung dan muram. Aku tidak tahu
apakah mereka tidak gembira melihat aku selamat
dibedah.

"Mak mana, ayah?'Aku bersuara perlahan. "Kenapa mak
tak datang?" Ayah tidak menjawab sebaliknya hanya
memandangku dengan mata yang mula berkaca.

Setelah berkali-kali aku bertanya, Ayah memelukku erat
sambil berbisik ditelinga. Aku terjelepuk dan tidak
sedar diri selepas itu.

Kata ayah, ibu baru semalam disemadikan. Ibu tidak
dapat diselamatkan setelah parah dilanggar motorsikal
dari belakang. Aku tidak dapat menahan hiba bila ayah
menyatakan, ibu baru saja beberapa langkah keluar dari
sebuah kedai pajak apabila tubuhnya disambar
motorsikal yang dipandu laju. Ibu dikejarkan ke
hospital dan sempat menyerahkan bungkusan itu sebelum
menghembuskan nafas.

Kata ibu, bungkusan itu untuk aku. Tanganku
terketar-ketar saat membuka bungkusan kain perca itu.
Terlihat sebentuk cincin halus yang bermata satu.
Cincin itu untuk aku. Ibu telah menebus semula cincin
itu untuk dihadiahkan kepadaku. Bila aku harus
menjalani pembedahan, dan wang yang terkumpul masih
belum mencukupi, ibu telah menggadai semua
barang-barang kemasnya hingga tiada satu yang tersisa.
Hanya tinggal cincin itu untuk diberikan kepadaku. Ibu
bercadang untuk memberikannya kepadaku bila aku sembuh
nanti.

Akhirnya, ibu berikan juga aku sebentuk cincin.
Bukankah itu yang selalu aku harapkan selama ini?
Adakah ia telah dapat membayar segala rasa iri hatiku
selama ini? Tiba-tiba aku rasa dunia ini begitu sepi.
Aku rasa seperti telah ditinggalkan jauh oleh orang
yang amat aku perlukan .Kenapa baru sekarang aku sedar
segunung intan permata pun tidak akan mampu menandingi
kebahagian memiliki seorang ibu. Dan segunung intan
permata juga tidak dapat membayar air mata seorang
wanita yang telah melahirkan aku.